Sabtu, 04 Desember 2010

Server Down !

Jum'at lalu jam 4 sore dapat telepon dari kantor. "Server meledak, keluar asap", bingung apa yang terjadi saya langsung menuju kantor dari winlab.

Ternyata semua diakibatkan oleh tegangan yang terlalu tinggi akibat perpindahan daya dari genset ke PLN. Server mati total, cukup khawatir juga karena external hardisk sebagai bakcup data juga rusak, dugaan pertama power supply rusak, jika hanya powersupply berarti data aman, dengan harap2 cemas langsung bergerak menuju itc cempaka mas membeli powersupply, tadinya beli enlight tetapi kemudian beralih ke simbada 500w karena menurut penjualnya lebih stabil disamping harganya murah dan garansi seumur hidup.

Sampai di kantor lansung pasang ps, alhamdullilhah Server berhasil menyala dengan baik. Hikmah dari kejadian ini backup data harus tetap dilakukan secara disiplin, untuk menjaga hal2 yang tidak dinginkan, ke dua UPS harus diaktifkan kembali !..

Selasa, 26 Januari 2010

RENUNGAN INDAH

RENUNGAN INDAH
W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putra-putri ku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....

Selasa, 12 Januari 2010

Bapak Ahmad Datang dan Pergi

Oleh: Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

“Kunci dari perubahan adalah melepaskan diri dari rasa takut.”
-- Rosanne Cash, penyanyi, asal Amerika

Namanya Ahmad. Pekerjaan sehari-harinya sopir pribadi. Majikannya seorang pialang di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Umur Ahmad saat ini hampir mencapai 60 tahun. Ia telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun. Saat Ahmad datang ke Jakarta, sekitar tahun 80-an, modalnya hanya sehelai surat izin mengemudi, dan tentu saja beberapa potong pakaian. Ia direkomendasikan saudaranya yang lebih dulu bekerja sebagai pramuwisma di keluarga yang kelak menjadi majikannya. Karir pertamanya, ia melayani isteri majikannya. Tugasnya, mengantar pergi belanja, arisan, ke rumah kolega, dan pertemuan informal lainnya. Karena dinilai santun, tak banyak ulah, dan cakap dalam mengemudi, tak lebih dari setahun, Ahmad ’naik pangkat’ menjadi sopir pribadi Pak Budi. Sekitar akhir Desember tahun lalu, Ahmad meminta pensiun. Umurnya memang tak lagi muda. Kepada majikannya, dia mengaku ingin menikmati hari tuanya di kampungnya. Sang Bos pun tak bisa menolak. Namun, setelah berpamitan, Ahmad rupanya tak langsung pulang kampung, ia menginap di salah satu saudaranya di Jakarta. Ada yang mau diurus, katanya. Dua minggu berselang, dia pun ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

Sesampainya di kota kelahirannya, ia disambut hangat oleh isteri dan anak-anaknya. Setelah beristirahat seharian karena kelelahan, keesokan harinya dia mengumpulkan seluruh keluarganya, yaitu isteri dan tiga anaknya. Ternyata ada yang ingin disampaikannya. Bila ia sudah tiada, ia akan mewariskan kekayaannya kepada keluarganya. Pada awalnya, keluarganya mendengarkan Pak Ahmad bicara hanya manggut-manggut saja. Mereka mungkin menilai Pak Ahmad bicara seperti itu karena merasa umurnya lanjut usia. Tapi ketika pembicaraan mulai mengarah pada besarnya warisan, satu persatu keluarga Pak Ahmad terkejut bukan main. Pak Ahmad ternyata mewarisi uang senilai hampir satu miliar rupiah. Uang itu tersimpan di beberapa bank dalam bentuk tabungan dan deposito. Ketika mendengarnya, isterinya kaget bukan main, sambil menutup mata, ia seakan tak percaya apa yang dibicarakan suaminya. Anak lelakinya yang paling tua, tersedak ketika meneguk minuman. Sementara itu, dua anak perempuannya hanya bengong tak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan keluarga itu semuanya sama, dari mana Pak Ahmad mempunyai uang sebanyak itu? Ya, darimana uang itu uang itu sesungguhnya berasal.

Inilah kisahnya. Di Jakarta, sebelum pensiun tentunya, Pak Ahmad sehari-hari melayani Pak Budi majikannya. Pak Budi adalah seorang pialang saham. Di kalangan pialang saham, Pak Budi termasuk pialang yang cukup dikenal. Yang namanya pialang saham, Pak Budi biasa melakukan transaksi dimana saja, di ruang kerjanya, tempat pertemuan, rumah makan, atau bahkan di perjalanan ketika sedang berkendara. Kebiasaan Pak Budi inilah, lama-lama dipahami Ahmad. Awalnya Ahmad buta sama sekali dengan dunia saham. Ketidaktahuan dan rasa penasaran Ahmad membawanya mencoba mengetahui dunia yang baru tersebut. Kadang Ahmad membaca dari surat kabar, buku, atau pun brosur. Tapi lebih banyak ia belajar dan banyak bertanya kepada para karyawan kantor tempatnya bekerja. Sebagian besar gaji Pak Ahmad selalu diberikan isterinya di kampungnya. Walau begitu, Pak Ahmad masih bisa menyisihkan beberapa untuk ditabung. Dari uang tabungannyalah, Pak Ahmad coba-coba untuk membeli saham. Pembelian saham di lantai bursa minimal satu lot, ditambah pajak sekitar 0,3 hingga 0,4 persen. 1 lot setara dengan 500 lembar saham. Karena tak ada uang sebesar itu untuk membeli minimal saham, Pak Ahmad bergabung dengan beberapa rekannya. Keuntungan sedikit demi sedikit akhirnya dapat diraih Pak Ahmad. Hingga akhirnya ia dapat membeli minimal satu slot dari uang hasil tabungannya. Kebiasaan tuannya yang sering melakukan transaksi di dalam kendaraan membuat Ahmad akhirnya paham. Kalimat, ”saya beli sekian lot saham....” atau ”saya jual sekian lot saham.....” sangat akrab di telinga Ahmad. Jangan salahkan Ahmad kalau ia dapat curi dengar seluruh percakapan majikannya di dalam mobil. Maka ketika Pak Budi, misalnya, menjual sahamnya sekian lot, itu pulalah yang dilakukan Ahmad, walau tentu dengan skala yang lebih kecil.

Tentu tak bisa terus-terusan Ahmad berada disamping majikannya. Ia hanya dapat melakukannya hanya ketika majikannya berada di dalam mobil melakukan transaksi atau ketika berada di dekatnya. Karena tak selamanya berada disisi majikannya, Ahmad tak mau semata hanya tergantung aksi jual-beli dari majikannya. Ia pun mencoba belajar. Hingga ia pun paham kapan saatnya menjual dan kapan saatnya membeli saham. Layaknya sebuah bisnis, tak selamanya Ahmad bernasib baik, kadang ia juga mengalami kerugian. Tapi waktu jualah yang akhirnya memberikan pengalaman berharga untuk Ahmad. Dari saham yang dimilikinya hanya berjumlah puluhan, meningkat hingga menjadi ratusan.

Pertanyannya kemudian, apakah yang dilakukan Ahmad diperbolehkan? Etiskah tindakan Ahmad? Bila bicara etika, maka kita bicara ’patut’ atau ’tidak patut’, ’pantas’ atau ’tidak pantas’. Etika merupakan persoalan yang rumit. Sebagai satu patokan moralitas yang menentukan persoalan patut atau tidak patut, pantas atau tidak pantas, ia tidak mempunyai wajah yang seragam. Tidak universal. Tergantung dimana ia berada berdiri. Ada sebagian orang yang mengibaratkan bermain saham layaknya sebuah judi. Lebih banyak faktor untung-untungannya. Kadang kalau hokinya sedang bagus, maka keuntungan besar dapat diraih. Tapi kalau nasib pas jeblok, rumah pun bisa digadaikan. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa bermain saham lebih pada menggunakan perhitungan yang matang dan juga analisa, tak hanya berdasarkan faktor keberuntungan semata. Tapi walau telah dianalisa secermat sekalipun, toh tetap saja ada pemain saham yang bernasib sial. Nasib Ahmad boleh dikatakan lebih banyak ditentukan karena faktor keberuntungan. Kalau bosnya pas lagi apes, dipastikan Ahmad ikutan apes juga, walau tentu kerugiannya tak sebesar kerugian yang diderita bosnya. Untungnya, bosnya lebih banyak meraih keuntungan dari aksi jual-beli sahamnya.

Sekarang, lupakan soal patut atau tidak patut. Pantas atau tidak pantas. Hikmah apa yang diambil dari kisah di atas? Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah Ahmad, pandai-pandailah menempatkan diri di dalam suatu kondisi dan situasi. Ambilah hal yang positif, buang yang negatif. Manfaatkan segenap peluang yang berada di depan mata. Jangan takut untuk mengambil risiko. Bila Anda berada pada situasi dimana seharusnya Anda dapat memetik keuntungan, tapi Anda tidak melakukannya, maka Anda sesungguhnya mengalami kerugian yang besar. Karena kreativitas dan jeli dalam mengambil peluang, membuatnya kehidupan Ahmad berubah total. Saat ini Ahmad memang telah kembali ke kampung halamannya. Tapi tentu saja, kali ini Ahmad tak hanya membawa sehelai surat izin mengemudi dan beberapa potong pakaiannya seperti ketika ia pertama kali datang ke Jakarta.

Rabu, 17 Juni 2009

Baju Pengantin

Tidak terasa hampir 5 bulan lagi kami menikah, saatnya kami memilih baju pengantin.


Untuk itu kami pergi ke sanggar rekanan ibu Evi, disana kami bertemu uni Mul, beliau ini pemilik sanggar yang menyewakan pakaian dan perlengkapan pengantin Padang.


Ada 3 pakaian yang kami pertimbangkan, semua berwarna dasar merah, ini warna kesukaan Ia, setelah mencoba ketiganya akhirnya kami memutuskan memilih yang satu ini

Senin, 15 Juni 2009

Lamaran

Alhamdullilah, hari minggu tanggal 8 maret 2009 lamaran saya ke keluarga ia selesai dilaksanakan.

Acara berjalan cukup sukses, walau ada kekurangan di sana-sini, tetapi bukanlah masalah besar. Kami dari Bogor berangkat sekitar jam 9.30, agak terlambat sedikit dari rencana semula, jam 9.

Ada 4 mobil yang membawa kami sekeluarga, turut mendampingi kami Kakek, Nenek, saudara-saudara dari ibu, kakak dan suaminya, juga mertua dari kakak. Perjalanan cukup lancar, kami sampai ditempat Ia sekitar jam 11 siang, langsung disambut oleh keluarga besar Ia, setelah kami semua bersalaman kami semua duduk di ruang depan rumah keluarga Ia, seserahan dari kami langsung diberikan ke keluarga Ia. Seserahan ini harusnya diberikan pada saat acara, tetapi karena tidak diberitahu maka diserahkan pada saat kami datang. Seserahan yang kami bawa adalah buah-buahan, ketan, risol spesial paling uenak khas keluarga kami, beberapa kue-kue.

Acara dipandu oleh saudaranya Ia, saya lupa namanya, tetapi bapak ini ternyata teman dari teman ibu, dokter yang dulu pernah bertugas di PT. Timah singkep. Bapak saya memulai sambutan dengan terlebih dahulu memperkenalkan keluarga kami, kemudian bapak menceritakan latar belakang terjadinya lamaran ini bermula ketika saya memberitahukan pada bapak bahwa saya dan Ia sudah serius dan ingin meneruskan hubungan kami ketahap selanjutnya yaitu menikah dan meminta bapak melamar Ia, kemudian bapak berfikir apakah bapak bisa mengabulkan permintaan saya, bapak melihat dari segi umur, ilmu, pekerjaan, penghasilan dan agamanya sudah mencukupi, dari sisi Ia bapak meliahat dari sisi agama sudah seiman, maka bapak berfikir sudah dapat mengabulkan dan menyampaikan permintaan ku ke keluarga Ia.

Setelah berunding dengan keluarga bapak Aburawas (bapaknya Ia) menerima pinangan keluarga kami, sebenarnya agak diluar sekenario, karena rencannanya diterima atau tidaknya ditanyakan dulu ke Ia, sementara Ia masih didalam kamar, tapi ini tidak menjadi masalah karena pada intinya lamaran kami diterima. Semua orang kemudian mengucapkan Alhamdullilhah.

Kemudian kedua orang tua kami menyerahkan dan mempercayakan kepada kami waktu dan persiapan pernikahan kepada kami berdua.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do'a dipimpin oleh ketua mesjid dilingkungan rumah Ia, sebelum berdoa pak uztad sedikit memberikan siraman rohani, beliau mengatakan ada lima perkara yang harus disegerakan yaitu :
  1. Memberi makan tamu bila datang berkunjung
  2. Menyiapkan penguburan mayat jika telah mati
  3. Mengawinkan anak perempuan jika cukup umur
  4. Membayar hutang bila telah sampai masanya
  5. bertaubat dari dosa
(diriwayatkan oleh Hatim Al-Asom, sumber www.sabah.org.my)

Diakhir acara karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Ia aku memberikan kado ulang tahun kepada Ia, diikuti dengan nyanyian selamat ulang tahun dari keluarga secara spontan :), keluargaku ini memang selalu heboh dimanapun hehe.

Acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan makan siang dan shalat dzuhur. Kami sekeluarga bersiap pulang sekitar jam 1 siang, dan keluarga Ia menyerahkan balasan seserahan berupa kue jajanan, black forest, kue bolu, dan yang paling top ikan kakap asam manis.

Acara lamaran selesai mulai saat ini sampai nanti bulan November kami mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kami, semoga kami diberikan kemudahan untuk melaksanakan niat suci kami. Amin.


datang
Baru sampai dirumah Ia

acara2
Suasana lamarannya

peserta
Pasukan pelamar

seserahan
Seserahannya

balasan
Balasannya