Senin, 06 Desember 2010

Safari Pernikahan

Satu minggu ini saya menghadiri beberapa pernikahan, saking banyaknya sudah seperti Safari Ramadhannya Harmoko wakru jaman Order Baru.

Dimulai tanggal 4 april sahabat SMP Chandra menikah di Hotel Mulia Senayan, berangkat dengan Ia naik taxi. Acara cukup meriah, karna ada hiburan panggung musik yang menampilkan musisi teman-teman Chandra, maklumlah Chandra ini seorang personil Band Cupumanik.

Besoknya jam 5 pagi (5 april 2009) saya dan Ia pergi menuju bandung untuk menghadiri pernikahan saudara saya Wawi, kami berangkat naik travel, karena hari libur waktu yang ditempuh jakarta-bandung hanya 1 jam 45 menit. Tempat pernikahan tidak jauh dari rumah bi Titin. Jam 7 malamnya kami pulang ikut dengan kakak diantar sampai ke kost.

Tanggal 11 april 2009 kembali saya dan ia pergi ke pernikahan seseorang yang tidak kami kenal :) sebenarnya kami hanya ingin tes makanan catering yang akan menjadi katering pernikahan kami. Tempatnya di Depnaker, disana kami langsung bertemu dengan bu Evi pemilik catering Mandiri, disana kami mencicipi beberapa menu dan melihat pelaminan, baju pengantin, dekorasi dan penanganan catering. Lumayannya sekalian hitung-hitung makan siang enak gratis :)

Besoknya anak saudara ibu menikah dibogor, seperti biasa saya mendapat tugas menjadi supir keluarga.

Akhirnya selesainya Safari Pernikahan ini.

Sabtu, 04 Desember 2010

Pemilu Legistatif 2009

Hari kamis tanggal 9 april 2009 pemilu legislatif kembali diadakan, ada 44 partai yang menjadi peserta.

Ada beberapa perubahan penting dalam pemilu kali ini,

  1. Sistem mencoblos diganti dengan mencontreng, tetapi jika ada yang mencoblos tetap dianggap sah

  2. Memilih nama calon bukan lambang partai, tetapi tetap diperkenankan mencontreng lambang partai


Kami sekeluarga memilih di TPS 04 desa Ciomas Rahayu Kecamatan Ciomas. Saya sudah punya pilihan partai tetapi tidak kenal nama calonnya, daripada bingung saya contreng semua caleg perempuan dari partai pilihan saya tersebut, mudah-mudahan dengan banyaknya perempuan di DPR bisa lebih membawa kebaikan :)

Penghitungan suara di TPS kami berlangsung sampai jam 4 pagi, ini dikarenakan sistem yang mengharuskan memilih calon, jadi agak rumit sedikit untuk tabulasinya, ditambah lagi ada 4 jenis surat suara (DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD), kalau di TPS kami ada 300 pemilih, dan setiap surat dibutuhkan waktu 0,5 menit, berarti 300 peserta x 4 jenis x 0,5 menit, dibagi 60 menit, berarti dibutuhkan waktu sekitar 10 jam, belum ditambah istirahat.

Hasilnya Demokrat meraih peringkat pertama dan PKS ditempat kedua. Sementara untuk perhitungan Quick Count yang diadakan oleh berbagai lembaga survey menunjukkan Demokrat menempati posisi pertama diikuti oleh Golkar, PDIP, PKS dst.

Berburu Emas Kawin dan Wedding Ring



Waktu libur hari raya nyepi kemarin kami aku dan ia manfaatkan untuk berburu emas kawin dan wedding ring. Tempat yang kami tuju adalah blok M, sebab menurut informasi yang kami dapat di sana banyak toko emas yang menawarkan pilihan yang cukup beragam.

Setelah tersasar sedikit akhirnya kami menemukan tempatnya, di samping carrefour blok M, disana berjejer toko emas jadi kami cukup punya banyak pilihan. Yang pertama kami cari wedding ring, ada sekitar 4 toko yang kami datangi, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada cincin kawin dari emas putih seberat 2 gram bermata berlian 0,07 dengan model simpel sesuai dengan selera Ia, harga yang kami dapatkanpun sesuai dengan anggaran yang kami rencanakan.

Kemudian kami berpindah tempat ke ITC Cempaka Mas untuk mencari emas kawin, disinipun kami mencari di beberapa toko sampai akhirnya kami menutuskan membeli gelang rantai emas bermotif dengan kadar 70% 22 karat seberat 10,3 gram disalahsatu toko, untungnya biaya pembuatannya tidak ada jadi kami mendapat harga sesuai dengan berat gramnya karena jika tidak harganya menjadi cukup mahal.

Akhirnya selesai perburuan kami, satu urusan persiapan pernikahan kami selesai, bulan depan kami berencana berburu catering.

Hadiah untuk kekasih

Ini hadiah ulang tahun ke 25 untuk calon isteriku :)

with-love

Kebersihan Hati

Mulai hari senin sampai sabtu depan Ia dapat tugas di Winlab Puri, jarak antara rumah Ia dan puri lumayan jauh, bisa dibayangkan dari Semper di Jakarta Utara ke Puri di Jakarta Barat. Untuk itu kantor memberikan uang trasport sebanyak Rp. 70.000 per hari selama bertugas di Puri.

Beberapa teman analisis lab yang memang bertugas tetap di Puri mengontrak rumah untuk ditinggali, rencana semula Ia akan tinggal di kontrakan tersebut. Tapi hari jumat lalu Ia bertanya ke saya "Mas kalau ketahuan Ia nginep ginama ya?", pertanyaan ini tiba-tiba menyadarkan saya, tadinya saya setuju saja Ia tinggal dikontrakan, karena berarti uang tersebut bisa disimpan. Tetapi bukankah seharusnya uang itu diperuntukkan untuk transport ?

Ya, hampir saja saya membuat Ia melakukan perbuatan tidak baik, pastilah hati Ia menunjukkan bahwa hal tersebut tidak benar, sungguh hanya manusia yang berhati bersih yang bisa mendengarkan bisikan kebenaran, kalau hati kita hitam bisa-bisa kita tidak menyadari kalau ternyata kita berbuat salah.

"Ya Allah sucikanlah hati kami berdua agar kami tetap di berikan petunjuk kepada jalan yang lurus, jalan yang Kau ridhoi, Amin".

Lapor Pajak

Tanggal 31 Maret ini akhir masa akhir pelaporan pajak penghasilan, karena saya kerja di dua perusahaan maka saya dapat 2 formulir SPT tahunan PPH pasal 21 sebagai bukti pembayaran oleh perusahaan untuk kemudian dilaporkan lagi ke kantor pajak.

Disinilah timbul masalah, ternyata setelah penghasilan kena pajak digabungkan dan dihitung pajaknya, 25 juta pertama 5%, 25 juta selanjutnya 10% selebihnya 15%, dikurangkan dengan pajak yang telah dibayarkan oleh kantor hasilnya saya kurang bayar :(, jumlahnya lumayan besar, hampir sama nilainya dengan yang dibayar oleh kantor.

Ini pelajaran buat saya, sekarang setiap bulan saya harus mencadangkan dana untuk mengantisipasi kurang bayar pajak ini, untuk yang saat ini terpaksa deh bobol tabungan nikah.

Biar bagaimanapun sebagai warna negara kita harus menyisihkan penghasilan kita untuk membiayai kelangsungan hidup negara ini, semoga uang membawa kebaikan untuk sesama warga negara bukan membuat buncit perut segelintir manusia indonesia yang serakah. Piss.

Server Down !

Jum'at lalu jam 4 sore dapat telepon dari kantor. "Server meledak, keluar asap", bingung apa yang terjadi saya langsung menuju kantor dari winlab.

Ternyata semua diakibatkan oleh tegangan yang terlalu tinggi akibat perpindahan daya dari genset ke PLN. Server mati total, cukup khawatir juga karena external hardisk sebagai bakcup data juga rusak, dugaan pertama power supply rusak, jika hanya powersupply berarti data aman, dengan harap2 cemas langsung bergerak menuju itc cempaka mas membeli powersupply, tadinya beli enlight tetapi kemudian beralih ke simbada 500w karena menurut penjualnya lebih stabil disamping harganya murah dan garansi seumur hidup.

Sampai di kantor lansung pasang ps, alhamdullilhah Server berhasil menyala dengan baik. Hikmah dari kejadian ini backup data harus tetap dilakukan secara disiplin, untuk menjaga hal2 yang tidak dinginkan, ke dua UPS harus diaktifkan kembali !..

Selasa, 26 Januari 2010

RENUNGAN INDAH

RENUNGAN INDAH
W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putra-putri ku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....

Selasa, 12 Januari 2010

Bapak Ahmad Datang dan Pergi

Oleh: Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

“Kunci dari perubahan adalah melepaskan diri dari rasa takut.”
-- Rosanne Cash, penyanyi, asal Amerika

Namanya Ahmad. Pekerjaan sehari-harinya sopir pribadi. Majikannya seorang pialang di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Umur Ahmad saat ini hampir mencapai 60 tahun. Ia telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun. Saat Ahmad datang ke Jakarta, sekitar tahun 80-an, modalnya hanya sehelai surat izin mengemudi, dan tentu saja beberapa potong pakaian. Ia direkomendasikan saudaranya yang lebih dulu bekerja sebagai pramuwisma di keluarga yang kelak menjadi majikannya. Karir pertamanya, ia melayani isteri majikannya. Tugasnya, mengantar pergi belanja, arisan, ke rumah kolega, dan pertemuan informal lainnya. Karena dinilai santun, tak banyak ulah, dan cakap dalam mengemudi, tak lebih dari setahun, Ahmad ’naik pangkat’ menjadi sopir pribadi Pak Budi. Sekitar akhir Desember tahun lalu, Ahmad meminta pensiun. Umurnya memang tak lagi muda. Kepada majikannya, dia mengaku ingin menikmati hari tuanya di kampungnya. Sang Bos pun tak bisa menolak. Namun, setelah berpamitan, Ahmad rupanya tak langsung pulang kampung, ia menginap di salah satu saudaranya di Jakarta. Ada yang mau diurus, katanya. Dua minggu berselang, dia pun ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

Sesampainya di kota kelahirannya, ia disambut hangat oleh isteri dan anak-anaknya. Setelah beristirahat seharian karena kelelahan, keesokan harinya dia mengumpulkan seluruh keluarganya, yaitu isteri dan tiga anaknya. Ternyata ada yang ingin disampaikannya. Bila ia sudah tiada, ia akan mewariskan kekayaannya kepada keluarganya. Pada awalnya, keluarganya mendengarkan Pak Ahmad bicara hanya manggut-manggut saja. Mereka mungkin menilai Pak Ahmad bicara seperti itu karena merasa umurnya lanjut usia. Tapi ketika pembicaraan mulai mengarah pada besarnya warisan, satu persatu keluarga Pak Ahmad terkejut bukan main. Pak Ahmad ternyata mewarisi uang senilai hampir satu miliar rupiah. Uang itu tersimpan di beberapa bank dalam bentuk tabungan dan deposito. Ketika mendengarnya, isterinya kaget bukan main, sambil menutup mata, ia seakan tak percaya apa yang dibicarakan suaminya. Anak lelakinya yang paling tua, tersedak ketika meneguk minuman. Sementara itu, dua anak perempuannya hanya bengong tak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan keluarga itu semuanya sama, dari mana Pak Ahmad mempunyai uang sebanyak itu? Ya, darimana uang itu uang itu sesungguhnya berasal.

Inilah kisahnya. Di Jakarta, sebelum pensiun tentunya, Pak Ahmad sehari-hari melayani Pak Budi majikannya. Pak Budi adalah seorang pialang saham. Di kalangan pialang saham, Pak Budi termasuk pialang yang cukup dikenal. Yang namanya pialang saham, Pak Budi biasa melakukan transaksi dimana saja, di ruang kerjanya, tempat pertemuan, rumah makan, atau bahkan di perjalanan ketika sedang berkendara. Kebiasaan Pak Budi inilah, lama-lama dipahami Ahmad. Awalnya Ahmad buta sama sekali dengan dunia saham. Ketidaktahuan dan rasa penasaran Ahmad membawanya mencoba mengetahui dunia yang baru tersebut. Kadang Ahmad membaca dari surat kabar, buku, atau pun brosur. Tapi lebih banyak ia belajar dan banyak bertanya kepada para karyawan kantor tempatnya bekerja. Sebagian besar gaji Pak Ahmad selalu diberikan isterinya di kampungnya. Walau begitu, Pak Ahmad masih bisa menyisihkan beberapa untuk ditabung. Dari uang tabungannyalah, Pak Ahmad coba-coba untuk membeli saham. Pembelian saham di lantai bursa minimal satu lot, ditambah pajak sekitar 0,3 hingga 0,4 persen. 1 lot setara dengan 500 lembar saham. Karena tak ada uang sebesar itu untuk membeli minimal saham, Pak Ahmad bergabung dengan beberapa rekannya. Keuntungan sedikit demi sedikit akhirnya dapat diraih Pak Ahmad. Hingga akhirnya ia dapat membeli minimal satu slot dari uang hasil tabungannya. Kebiasaan tuannya yang sering melakukan transaksi di dalam kendaraan membuat Ahmad akhirnya paham. Kalimat, ”saya beli sekian lot saham....” atau ”saya jual sekian lot saham.....” sangat akrab di telinga Ahmad. Jangan salahkan Ahmad kalau ia dapat curi dengar seluruh percakapan majikannya di dalam mobil. Maka ketika Pak Budi, misalnya, menjual sahamnya sekian lot, itu pulalah yang dilakukan Ahmad, walau tentu dengan skala yang lebih kecil.

Tentu tak bisa terus-terusan Ahmad berada disamping majikannya. Ia hanya dapat melakukannya hanya ketika majikannya berada di dalam mobil melakukan transaksi atau ketika berada di dekatnya. Karena tak selamanya berada disisi majikannya, Ahmad tak mau semata hanya tergantung aksi jual-beli dari majikannya. Ia pun mencoba belajar. Hingga ia pun paham kapan saatnya menjual dan kapan saatnya membeli saham. Layaknya sebuah bisnis, tak selamanya Ahmad bernasib baik, kadang ia juga mengalami kerugian. Tapi waktu jualah yang akhirnya memberikan pengalaman berharga untuk Ahmad. Dari saham yang dimilikinya hanya berjumlah puluhan, meningkat hingga menjadi ratusan.

Pertanyannya kemudian, apakah yang dilakukan Ahmad diperbolehkan? Etiskah tindakan Ahmad? Bila bicara etika, maka kita bicara ’patut’ atau ’tidak patut’, ’pantas’ atau ’tidak pantas’. Etika merupakan persoalan yang rumit. Sebagai satu patokan moralitas yang menentukan persoalan patut atau tidak patut, pantas atau tidak pantas, ia tidak mempunyai wajah yang seragam. Tidak universal. Tergantung dimana ia berada berdiri. Ada sebagian orang yang mengibaratkan bermain saham layaknya sebuah judi. Lebih banyak faktor untung-untungannya. Kadang kalau hokinya sedang bagus, maka keuntungan besar dapat diraih. Tapi kalau nasib pas jeblok, rumah pun bisa digadaikan. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa bermain saham lebih pada menggunakan perhitungan yang matang dan juga analisa, tak hanya berdasarkan faktor keberuntungan semata. Tapi walau telah dianalisa secermat sekalipun, toh tetap saja ada pemain saham yang bernasib sial. Nasib Ahmad boleh dikatakan lebih banyak ditentukan karena faktor keberuntungan. Kalau bosnya pas lagi apes, dipastikan Ahmad ikutan apes juga, walau tentu kerugiannya tak sebesar kerugian yang diderita bosnya. Untungnya, bosnya lebih banyak meraih keuntungan dari aksi jual-beli sahamnya.

Sekarang, lupakan soal patut atau tidak patut. Pantas atau tidak pantas. Hikmah apa yang diambil dari kisah di atas? Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah Ahmad, pandai-pandailah menempatkan diri di dalam suatu kondisi dan situasi. Ambilah hal yang positif, buang yang negatif. Manfaatkan segenap peluang yang berada di depan mata. Jangan takut untuk mengambil risiko. Bila Anda berada pada situasi dimana seharusnya Anda dapat memetik keuntungan, tapi Anda tidak melakukannya, maka Anda sesungguhnya mengalami kerugian yang besar. Karena kreativitas dan jeli dalam mengambil peluang, membuatnya kehidupan Ahmad berubah total. Saat ini Ahmad memang telah kembali ke kampung halamannya. Tapi tentu saja, kali ini Ahmad tak hanya membawa sehelai surat izin mengemudi dan beberapa potong pakaiannya seperti ketika ia pertama kali datang ke Jakarta.